Sudah berbulan-bulan ini dia tidak merasakan kehangatan, kebersamaan, kegembiraan, nyangkruk bersama teman-temannya dalam menikmati secangkir kopi yang dibumbuhi dengan canda dan tawa. Itu disebabkan bukan karena ada pandemi covid 19 yang memaksa masyarakat untuk lockdown tetapi ada faktor lain yaitu dia harus memaksakan diri meninggalkan kampung halaman (merantau) untuk mencari pengalaman baru.
Jika ditanya rindu? itu sudah jelas dan pasti, dia rindu. Bagaimana tidak rindu? kalau biasanya dulu dia ngopi bersama teman-teman sejawatnya, naaahh... sekarang dia ngopi sendiri di emperan (teras rumah) terasa hening, terkoyak-koyak sepi. Hanya suara nyamuk-nyamuk disekeliling yang berdengung di telinga. Selesai nyruput kopi, terus ngedul, terus mantengin hp senyum-senyum sendiri dan itu terus berulang-ulang. Kalau ada setan melihat aktivitasnya seperti itu mungkin ia akan bertanya pada teman nya " Itu orang stress kali ya...?".
Sejak dibangku kuliah dulu dia sering mampir ke warung kopi bersama teman-temannya nyangkruk (ngopi), tentunya untuk menenangkan hati dan pikirannya sambil menunggu jam pelajaran dimulai atau sesudah jam pelajaran selesai. Dengan bermodalkan Rp.5000 itu sudah cukup untuk membeli secangkir kopi dan sebatang rokok (utilan). Suasana yang penuh keakraban, kedamaian, saling ceplas-ceplos omong sana omong sini dan itu menjadi suatu kenikmatan ketika dia ngopi bersama teman-temannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar