Selasa, 09 Agustus 2022

Tradisi Baritan dan Nilai Keagamaan

Bulan Muharam (Suro) merupakan salah satu bulan suci dalam Islam. Arti kata muharam menurut KBBI adalah bulan pertama Hijriah. Yang mana pada tanggal 1 Muharam (Suro) ditetapkan sebagai tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah. Dalam memperingati tahun baru tersebut, umat Islam di jawa melakukan ritual adat ataupun perayaan yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu. Ritual adat masyarakat Islam di Jawa yang masih dilaksanakan hingga sekarang ini khususnya di Jawa Timur tempat saya tinggal yaitu di Desa Slemanan ialah tradisi baritan. Mereka masih berpegang teguh dan mempercayai bahwa tradisi baritan yang telah berlangsung turun-temurun dari nenek moyang dulu memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan ber-manusia dan mengandung nilai-nilai keagamaan. Sehingga tradisi tersebut masih terjaga dengan baik.

Tradisi baritan biasa disebut sebagai sedekah bumi atau sedekah laut. Sedekah bumi bagi kebanyakan masyarakat yang mata pencahariannya sebagai Petani dan sedekah laut bagi kebanyakan masyarakat yang mata pencahariannya sebagai Nelayan. Tradisi baritan dilaksanakan setiap setahun sekali pada awal bulan Muharam (Suro) atau tahun baru Islam,  sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat di tempat saya tinggal. Warga masyarakat sangat antusias dalam melaksanakan tradisi baritan tersebut, baik dari golongan laki-laki dan perempuan (orang tua, remaja, dan anak-anak).

Dalam tradisi baritan warga masyarakat membawa makanan (ambengan) semampunya berupa nasi, sayur, dan lauk pauk. Biasanya jumlah makanan yang mereka bawa sesuai dengan batih. Makanan (ambengan) tersebut ditempatkan di dalam takir. Pada zaman dulu takir  yang digunakan dalam tradisi baritan terbuat dari daun pisang yang disemat lidi, dua sisinya diberi janur kuning, dan bawahnya diberi nampan yang terbuat dari gedebog (batang pohon pisang) berbentuk persegi. Orang jawa menyebutnya encek. Kemudian makanan (ambengan) ditata di tengah-tengah tikar dan dilingkari oleh warga masyarakat.

Seiring dengan berjalannya waktu, wadah atau tempat makanan pun mengalami perubahan. Masyarakat sekarang lebih banyak menggunakan wadah yang praktis/lebih mudah yaitu terbuat dari plastik seperti halnya styrofoam. Nampannya juga terbuat dari plastik dan ada juga yang menaruhnya di dalam kresek (kantong plastik) maupun tas plastik. Perubahan tersebut tentunya tidak menjadikannya persoalan/masalah dalam pelaksanaan tradisi baritan. Meskipun terlihat kurang sakral seperti apa yang telah dilakukan  oleh orang-orang terdahulu. Yang terpenting ialah niat dan tujuan dari tradisi baritan tersebut.

Pelaksanaan tradisi baritan di desa saya, mungkin tidak jauh berbeda dengan masyarakat-masyarakat Jawa pada umumnya. Di Desa saya tradisi baritan dilakukan setelah waktu magrib, tempatnya di pinggir jalan desa  yaitu di simpang tiga jalan atau di simpang empat jalan. Dalam melakukan tradisi baritan, warga masyarakat dibagi tiap lingkungan RT dengan tujuan agar tradisi baritan berjalan kondusif dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya. Rangkaian acara tradisi baritan diawali dengan pembukaan acara (muqoddimah), pembacaan tahlil, dan diakhiri dengan do'a bersama yang dipimpin oleh para tokoh masyarakat. Setelah itu warga masyarakat pulang dengan membawa makanan (ambengan) masing-masing.

Nilai Keagamaan

Tradisi baritan merupakan wujud rasa syukur masyarakat islam di jawa kepada Allah SWT atas rahmat, limpahan rezeki yang telah diberikan di bumi ini. Sebagai wujud dari rasa syukur warga masyarakat membawa makanan (ambengan) hasil bumi untuk disedekahkan.

Tradisi baritan merupakan media untuk berdo'a agar diberi keselamatan dalam menjalankan kehidupan di dunia (dipercaya sebagi tolak balak) dan selalu dalam lindunganNya. Serta mendoakan para leluhur-leluhur nenek moyang dahulu. Selain itu tradisi baritan merupakan bentuk dari kerukunan warga masyarakat.

Wallahu a'lam.

Blitar, 04 Agustus 2022

Minggu, 29 Mei 2022

Singgah di Dekat Perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur

Tulisan ini bukan tulisan tentang cerita cinta layaknya sinetron FTV, bukan pula tulisan tentang cerita horor yang bisa menghipnotis para pembaca takut untuk pergi ke kamar mandi. Tulisan ini hanyalah tulisan tentang pengalaman kalau saya pernah singgah di dekat perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Dan mungkin isi dari tulisan ini tak semenarik atau seindah apa yang kalian bayangkan. Dan saya pun tidak memperdulikan hal tersebut.

Sebenarnya tidak ada sedikit pun angan-angan untuk pergi merantau. Seingat saya sekitar bulan september 2019 saya pergi merantau ke kalimantan selatan. Letaknya dekat dengan perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, kurang lebih jaraknya 2 km dari perbatasan tersebut. Dan mungkin ini menjadi pengalaman pertama saya hidup merantau jauh dari orang tua.

Semua itu bermula saat ditawari oleh saudara saya untuk ikut bekerja di sebuah warung bakso dan mie ayam. Saya pun langsung bimbang/bingung antara memilih ikut atau tidak. Karena saya belum pernah pergi merantau, kalau pun pernah merantau paling saya merantau ke rumah teman, saudara, yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya (kui dolan uduk merantau). Sehari tidak pulang atau dua hari tidak pulang. Dan jeda waktu untuk memutuskan ikut atau tidak hanya sehari, tentu itu bukanlah waktu yang banyak.

Akhirnya setelah saya berbincang-bincang dengan kedua orang tua, saya memutuskan untuk ikut bekerja di sebuah warung bakso dan mie ayam. Saya mencoba untuk membulatkan tekad. Toh tidak ada salahnya jika saya mencari hal baru dan pengalaman baru, pikir saya. Karena bekal pengalaman sangatlah penting dalam menjalankan kehidupan ini. "Pengalaman adalah guru terbaik",ungkapan yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.

Blitar, 29 Mei 2022

Senin, 24 Januari 2022

Yang Tampak Di Mata

"Menjadi orang sungkan itu ternyata cukup  melelahkan. Tidak tahu kenapa sikap sungkan itu selalu muncul. Rasanya aku ingin membuang jauh-jauh sikapku yang selalu tidak enakan terhadap orang lain. Mengatur waktu untuk diri-sendiri pun aku tidak bisa. Sulit sekali untuk menerapkan pola hidup sehat. Makan secara teratur, olahraga secara teratur, menikmati hidup, dll."

Kawanku ini namanya Asep, tiba-tiba ia membuka omongan dengan nada yang kesal via telpon WA. Seakan-akan ia ingin menghantamkan sesuatu yang ada di depannya. Asep ini bekerja di sebuah warung yang jauh dari kampungnya. Ia harus bekerja dari mulai jam 7 pagi hingga jam 10 malam. Rasa sungkannya terhadap bosnya, membuat Asep tidak sempat untuk beristirahat. Karena beban kerja dengan tenaga kerjanya tidak seimbang sebagaimana mestinya. Asep terus melanjutkan bicaranya, sementera aku masih diam mendengarkan Asep mengoceh.

"Bahkan aku sering berlarut-larut malam menahan rasa kantuk agar tidak langsung terlelap tidur. Waktu begitu cepat jika aku langsung terlelap tidur, bangun-bangun ternyata sudah pagi lagi. Pokoknya bisa stres kalau dibiarkan terus-menerus. Melakukan suatu pekerjaan yang tidak ada aturan waktu untuk istirahat."

Tiba-tiba telpon kami terputus. Aku belum sempat untuk menanggapinya. Entah apa yang terjadi pada saat itu. Sinyal Asep yang hilang atau malah ia menghantamkan handphone karena ia merasa sangat kesal.

Medengarkan keluh kesah Asep, aku langsung teringat kata-kata yang diajarkan oleh pepatah jawa kuno dulu. "Urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang." Yang artinya hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan hanya melihat dari apa yang terlihat.

Bagiku kata-kata tersebut memberikan suatu pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari kita pun masih sering menyimpulkan atau membandingkan  kehidupan kita dengan orang lain. "Wah enak banget itu hidupnya, wah bahagianya." Padahal jelas kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi atau yang dialami pada mereka. Bagaimana bab 1 nya?, Bagaimana bab 2 nya?, dan seterusnya.

Secara akademis tentu tidak etis kalau kita langsung loncat mengerjakan bab akhir yaitu kesimpulan. Maka dari itu pepatah jawa kuno selalu mengingatkan kepada diri kita "Jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat." Karena yang kita padang belum tentu seindah apa yang tampak.

Selasa, 19 Oktober 2021

Hikmah

 

Jauh dari orang tua/keluarga itu memang tidak enak ya? Eh, tapi mungkin di luar sana ada juga yang merasa nyaman atau dinyaman-nyamanin ketika jauh dengan orang tua/keluarganya. Entah itu dengan alasan ingin hidup mandiri, keadaan ekonomi kurang baik, keadaan keluarga yang lagi broken home ataupun karena suatu pekerjaan yang mengaharuskan untuk jauh dari orang tua/keluarganya.

Hidup merantau. Tidak ada bayangan sama sekali ketika saya masih tinggal di kampung halaman. Dua tahun sudah saya hidup di perantauan. Sungguh tidak disangkakan. Satu minggu sekali ataupun dua minggu sekali bisa pulang, mungkin rasa rindu terhadap orang tua/keluarga bisa sedikit terobati. Jika sekarang ditanya apa cita-cita kamu? Sudah jelas, ingin pulang hidup bersama orang tua/keluarga. Tidak tahu kenapa rasa luar biasa ini muncul ketika saya hidup di perantauan. Mengingat ketika saya di kampung halaman dekat dengan orang tua/keluarga tidak ada perasaan yang luar biasa ini, semua terasa biasa-biasa saja.

Tuhan itu memang Maha Asyik. Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa dengan tujuan untuk menjadi khalifah dan memakmurkan kehidupan di bumi, Tuhan tidak langsung menurunkan Adam dan Hawa ke bumi. Tetapi Tuhan membuat semacam drama atau suatu pembelajaran di surga untuk bekal menjalankan kehidupan di bumi. Singkat cerita ketika Adam dan Hawa kebujuk oleh rayuan iblis saat memakan salah satu buah yang dilarang oleh Tuhan yaitu buah khuldi. Dari situ Tuhan memberikan suatu pelajaran yang penting kepada Adam dan Hawa untuk selalu hati-hati terhadap bujuk rayu iblis.

So, apapun yang kita lakukan/kerjakan sekarang tentu ada hikmahnya tersendiri. Kecintaan saya terhadap orang tua/keluarga yang dulunya biasa-biasa saja kini meluap ketika saya hidup jauh dengan orang tua/keluarga. Sepenggal lirik dari God Bless, ingat! dibaca, jangan dinyanyikan!

"Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
Semuanya ada di sini."

Kalimantan Selatan, 20 Oktober 2021.


Kamis, 16 September 2021

Sepiring Bertiga

muctar, saya, dan haikal (3 semprol)

Seiring berjalannya waktu kesibukan merupakan suatu aktivitas yang harus kita lakukan dan kita syukuri untuk menyambung suatu tatanan kehidupan agar menjadi lebih baik. Dalam konteks ini kesibukan yang saya maksud adalah kesibukan dalam hal suatu pekerjaan. Bekerja itu penting. Dalam islam bekerja bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga suatu bentuk ibadah kita kepada Allah SWT. Bekerja itu adalah ibadah.

Kemarin malam sahabat saya muchtar mengirim foto di atas dalam sebuah grub WA yang sengaja kami buat pada tanggal 28 januari 2019 dan hanya beranggotakan tiga orang. Grub tersebut kami berinama "Diskusi Literasi 3 Semprol". Wah, nama yang keren, nama yang serius. Tapi kenyataannya apa yang kami lakukan di dalam sebuah grub tersebut tidak sekeren dan seserius namanya, semua hanyalah angan-angan belaka.

Foto makan sepiring bertiga itu berada di kosnya muchtar yang bertempat di jepun sewaktu masih berjuang untuk meraih gelar S1 dulu. Sungguh moment yang indah. Moment yang merupakan kebiasan 3 semprol (saya, muchtar, dan haikal) lakukan disaat perut terasa keroncongan dan dompet terasa tipis setelah menjalani aktivitas perkuliahan yang begitu melelahkan. Tentunya moment tersebut tidak akan pernah bisa kami ulang dengan tempat yang sama, makanan yang sama, dan suasana yang sama. Karena waktu akan terus berputar ke kanan. Seperti apa yang sering dilontarkan oleh sahabat saya muchtar "Hidup itu bukan seperti kamu saat mendengarkan MP3, bisa di pause atau play seperti yang kamu inginkan sesuka hati. Tetapi lebih mirip seperti layanan musik streaming yang terus berputar. Tidak bisa kamu tentukan seenaknya, baik saat ramai ataupun sekaligus sepi".

Melihat foto di atas menyadarkan saya ternyata sudah begitu lama kita tidak menunjukkan keluesan dan keakraban di saat kita sedang berkumpul. Salah satunya karena aktivitas dan kesibukan masing-masing yang menunda kita untuk saling berjumpa. Dan saya selalu menghidar untuk tidak selalu menyalahkan kahanan/keadaan. Apa sepatutnya kita untuk menyalahkan kahanan/keadaan? Kalau memang kahanan/keadaan sudah menjadi hak prerogatif dari sonoNya. Positif saja, mungkin karena kita belum waktunya untuk  diperjumpakan lagi. Gitu aja kok repot.

Kalimantan Selatan, 16 September 2021.


 

Selasa, 14 September 2021

Ngopi

Sudah berbulan-bulan ini dia tidak merasakan kehangatan, kebersamaan, kegembiraan, nyangkruk bersama teman-temannya dalam menikmati secangkir kopi yang dibumbuhi dengan canda dan tawa. Itu disebabkan bukan karena ada pandemi covid 19 yang memaksa masyarakat untuk lockdown tetapi ada faktor lain yaitu dia harus memaksakan diri meninggalkan kampung halaman (merantau) untuk mencari pengalaman baru.

Jika ditanya rindu? itu sudah jelas dan pasti, dia rindu. Bagaimana tidak rindu? kalau biasanya dulu dia ngopi bersama teman-teman sejawatnya, naaahh... sekarang dia ngopi sendiri di emperan (teras rumah) terasa hening, terkoyak-koyak sepi. Hanya suara nyamuk-nyamuk disekeliling yang berdengung di telinga. Selesai nyruput kopi, terus ngedul, terus mantengin hp senyum-senyum sendiri dan itu terus berulang-ulang. Kalau ada setan melihat aktivitasnya seperti itu mungkin ia akan bertanya pada teman nya " Itu orang stress kali ya...?".

Sejak dibangku kuliah dulu dia sering mampir ke warung kopi bersama teman-temannya nyangkruk (ngopi), tentunya untuk menenangkan hati dan pikirannya sambil menunggu jam pelajaran dimulai atau sesudah jam pelajaran selesai. Dengan bermodalkan Rp.5000 itu sudah cukup untuk membeli secangkir kopi dan sebatang rokok (utilan). Suasana yang penuh keakraban, kedamaian, saling ceplas-ceplos omong sana omong sini dan itu menjadi suatu kenikmatan ketika dia ngopi bersama teman-temannya.

Di rumah pun juga begitu, dia sering mengajak teman-temannya ngopi bareng di rumahnya. Ketika dia suntuk, dia langsung chat via WA ke teman-temannya "mahkuo ngopi !". Satu-persatu temannya berdatangan. Mereka langsung mengulurkan wol (iuran) untuk membeli kopi sacetan dan aneka jajanan. "Eeh.. awakmu tuku kopi karo jajan, awakmu nggodok banyu, awakmu mbleber kloso" semua mendapatkan tugas masing-masing. Walau terkadang mereka juga engkel-engkelan/udur-uduran (saling tunjuk menunjuk). Dan tidak terasa sampai berlarut-larut malam mereka menikmati seceret (satu teko) kopi dan jajanan yang berserakan di depannya.

Sabtu, 11 September 2021

Wanita Tangguh

 

Wanita selalu dipandang sebagai makhluk yang lemah. Bukankah begitu?. Tetapi tidak dengan sosok wanita ini, ia bukanlah makhluk yang lemah. Ia seseorang yang mempunyai kelembutan diluar dan mempunyai kepribadian yang tangguh. Bagaimana tidak? Banyak sekali peran yang harus ia jalani setiap hari dalam kehidupan berumah tangga. Disamping aktivitasnya menjadi ibu rumah tangga yang selalu sabar melayani anak-anak dan ayahnya dalam kehidupan sehari-harinya, ia juga berperan dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Setiap malam ia selalu modar-mandir kesana-kesani di area taman yang tak jauh dari rumahnya. Ia selalu melayani orang-orang yang membelinya dengan ramah dan senyum yang membara. Ia pun tak punya kemaluan, Eehh... maksudnya "rasa malu". Iya, ia tak mempunyai rasa malu sama sekali walau setiap harinya ia harus mendorong gerobaknya yang dipenuhi dengan dagangan berupa kopi sacetan dan minum-minuman yang lainnya. Bahkan ia tampak bersemangat dan bergembira dalam mejalani pekerjaan mulia tersebut yaitu "dodolan kopi". Kenapa mulia? karena berdagang merupakan sunnah Rosulullah. Dari sini kita bisa tahu bahwa wanita itu bukanlah makhluk yang lemah. Bisa dibilang wanita itu "Wonder Woman". hehehe...

Begitu banyak peran penting yang dilakukan oleh seorang wanita. Ada pula beban-beban berat yang harus dihadapinya, bahkan beban-beban yang harus dipikul oleh seorang laki-laki. Seorang wanita merupakan makhluk yang istimewa. Salah satu keistimewaan wanita itu ketika ia diangkat menjadi seorang ibu derajatnya dinaikkan menjadi tiga kali lipat dari seorang ayah. Oleh sebab itu kita harus berterimakasih kepada seorang ibu, berbakti kepadanya, dan santun dalam bersikap kepadanya.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang pemuda datang kepada Rosulullah dan berkata, "Wahai Rosulullah, siapakah seseorang yang perlu saya cintai pertama kali?" Nabi menjawab, "Ibumu". Orang itu bertanya lagi, "Kemudian setelah dia siapa?" Nabi menjawab, "Ibumu". Orang itu bertanya lagi "Kemudian setelah dia siapa?" Nabi Menjawab, "Ibumu". Orang itu bertanya lagi "Kemudian setelah dia siapa?" Nabi baru menjawab "Ayahmu". Begitulah bagaimana islam sangat memuliakan seorang wanita.
Di luar sana tentu masih banyak versi-versi wanita tangguh lainnya.