"Menjadi orang sungkan itu ternyata cukup melelahkan. Tidak tahu kenapa sikap sungkan itu selalu muncul. Rasanya aku ingin membuang jauh-jauh sikapku yang selalu tidak enakan terhadap orang lain. Mengatur waktu untuk diri-sendiri pun aku tidak bisa. Sulit sekali untuk menerapkan pola hidup sehat. Makan secara teratur, olahraga secara teratur, menikmati hidup, dll."
Kawanku ini namanya Asep, tiba-tiba ia membuka omongan dengan nada yang kesal via telpon WA. Seakan-akan ia ingin menghantamkan sesuatu yang ada di depannya. Asep ini bekerja di sebuah warung yang jauh dari kampungnya. Ia harus bekerja dari mulai jam 7 pagi hingga jam 10 malam. Rasa sungkannya terhadap bosnya, membuat Asep tidak sempat untuk beristirahat. Karena beban kerja dengan tenaga kerjanya tidak seimbang sebagaimana mestinya. Asep terus melanjutkan bicaranya, sementera aku masih diam mendengarkan Asep mengoceh.
"Bahkan aku sering berlarut-larut malam menahan rasa kantuk agar tidak langsung terlelap tidur. Waktu begitu cepat jika aku langsung terlelap tidur, bangun-bangun ternyata sudah pagi lagi. Pokoknya bisa stres kalau dibiarkan terus-menerus. Melakukan suatu pekerjaan yang tidak ada aturan waktu untuk istirahat."
Tiba-tiba telpon kami terputus. Aku belum sempat untuk menanggapinya. Entah apa yang terjadi pada saat itu. Sinyal Asep yang hilang atau malah ia menghantamkan handphone karena ia merasa sangat kesal.
Medengarkan keluh kesah Asep, aku langsung teringat kata-kata yang diajarkan oleh pepatah jawa kuno dulu. "Urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang." Yang artinya hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan hanya melihat dari apa yang terlihat.
Bagiku kata-kata tersebut memberikan suatu pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari kita pun masih sering menyimpulkan atau membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. "Wah enak banget itu hidupnya, wah bahagianya." Padahal jelas kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi atau yang dialami pada mereka. Bagaimana bab 1 nya?, Bagaimana bab 2 nya?, dan seterusnya.
Secara akademis tentu tidak etis kalau kita langsung loncat mengerjakan bab akhir yaitu kesimpulan. Maka dari itu pepatah jawa kuno selalu mengingatkan kepada diri kita "Jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat." Karena yang kita padang belum tentu seindah apa yang tampak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar